09 Juni 2009

Foto Luka Sayatan di Payudara Manohara

Mahohara memperlihatkan luka penganiyaan melalui sejumlah foto kepada para wartawan di kantor Hotman Paris di gedung Summitmas 1, Sudirman, Jakarta, Senin (08/06), dan hal tersebut dilakukan Manohara Pinot untuk menjawab rasa penasaran banyak pihak atas kekerasaan rumah tangga yang disebut-sebut dialaminya selama ini oleh Muhammad Fakhry.

Manohara Menunjukkan Foto Penganiyaan yang dialaminya yang terekam di ponselnya

"Ini baru luka yang ringan karena Mano merasa sisanya terlalu terbuka sekali untuk diperlihatkan dan Mano tidak comfortable with it," aku Manohara separuh berbahasa Inggris kepada kompas.com, Senin (08/06), merujuk luka sayatan benda tajam berbentuk zig-zag di sekitar payudaranya.

Menanggapi ucapan Mano, kuasa hukumnya Hotman Paris lantas menandaskan, "ini sangat mengerikan. Itu baru yang paling ringan. Saya saja hampir mengeluarkan air mata begitu melihat lukanya," tandasnya.

Sementara itu, dokter ahli forensik RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Abdul Mun'im Idries menerangkan hasil visumnya menunjukan bahwa Manohara telah mengalami kekerasan tingkat derajat dua, yakni sebuah kekerasan dengan meninggalkan luka serius tingkat menengah.

Dari hasil visum tersebut, Mun'im Idries menemukan beberapa luka sayatan dengan berbentuk zig-zag di daerah sekitar Payudara, paha, dan sebuah luka titik di punggung akibat tusukan jarum suntik. "Semua luka yang ada termasuk derajat dua, kalau derajat satu itu penganiyayaan ringan. Tadi (Senin sore) saya sudah mengambil sample darah dan urine," tambahnya.

Berdasarkan hasil visum tersebut, lanjut Mun'im, sudah bisa dijadikan alat bukti untuk mempidanakan Fakhry. "Kata Mano karena ini sudah dilakukan (Fakhry) beberapa bulan yang lalu, maka ini termasuk menengah dan pelakunya bisa ditangkap," tegas pria setengah baya itu.

Pernyataan yang disampaikan Munim tersebut, ditegaskan Hotman Paris Hutapea, bahwa kliennya Manohara dan ibunya, Daisy Fajarina, tidak melakukan pembohongan publik sebagaimana dituduhkan belakangan ini. "Jadi dia (Manohara) tidak berbohong sama sekali bahwa dia mengalami siksaan-siksaan saat orang biadab itu (Fahry) menikmati tubuhnya sambil disayat-sayat," tandas Hotman.

Diakui Manohara siksaan-siksaan tersebut diterimanya sejak sepulang usai menjalankan umroh, pada Maret 2009. "Pernikahan saat Agustus 2008, tapi kekerasan dimulai setelah kembali dari Jeddah, Maret 2009. Itu yang dibakar, tapi kalau yang dipotong-potong (disayat-red) mulainya April 2009," beber Manohara.

Selain kekerasan fisik, Manohara juga mengaku kerap mendera kekerasan batin seperti ucapan kasar Fakhry yang terpaksa harus ditelannya mentah-mentah. "Sesudah kawin itu langsung kasar omongannya. Dia bilang semua wanita Indonesia bisa dibeli," ucap Manohara bernada lirih.

1 komentar :

Anonim mengatakan...

Pemerintah Indonesia harus menfasilitasi tuntutan hukum yang dilakukan oleh Mano..

semoga pelaku bisa diseret kepengadilan dan mendapat hukuman yang setimpal..

salam

Tulisan Terkait: