10 November 2008

Kisah Singkat Hidup Imam Samudra

Cengeng dan penakut. Begitu Imam Samudera dikenal keluarganya. Jika menangis, Imam kecil sangat susah sekali berhenti meski sudah ditimang sang ibu.


Foto: Imam Samudra

Meski cengeng, Abdul Aziz, begitu nama asli Imam Samudera, sudah terlihat pintar. Di kelasnya, Aziz selalu mendapat juara pertama.

Menurut keluarganya, pria yang waktu kecil dipanggil Aziz itu sangat cekatan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan (IPA) dan kerajinan tangan.

Namun, anak ke 8 dari 11 bersaudara itu tidak pandai dalam bidang matematika.
Namun sikap penakut dan cengeng tidak ditemui lagi saat Aziz dewasa. Aziz tumbuh menjadi pria yang keras.

Aziz yang berganti nama menjadi Imam Samudra bahkan mengaku bertanggung jawab pada sejumlah pengeboman di tanah air sejak tahun 2000. Nama Imam Samudra pertama kali muncul dari keterangan tersangka yang diringkus terkait peristiwa bom Natal di Batam dan bom Atrium Senen, Jakarta.

Sebelum kembali ke Indonesia, pria kelahiran Kampung Pelong Gede, Serang, Banten 14 Januari 1970 ini sempat tinggal di Malaysia dan Afghanistan. Di dua negara itulah, Imam belajar soal senjata api dan bom.

Imam Samudra juga dikenal sebagai teroris yang gemar berkomunikasi dengan internet. Bahkan, dia masih berchatting ria dari balik jeruji tahanan.

Dengan bantuan sipir LP Kerobokan Bali, Beni Irawan, tersangka bom Bali yang diketahui merupakan otak pengemboman menyelundupkan komputer jinjing (laptop) ke dalam tahanan. Berdasarkan bukti yang dimiliki polisi, laptop itu dikirim Agung Setiadi alias Salaful Jihad pada 5 Mei 2005.

Beni pun dijatuhi hukuman 5 tahun penjara karena dinilai terbukti menyelundupkan dan memberikan laptop kepada terpidana mati Bom Bali I Imam Samudra.

Sementara Imam Samudra, kembali dijadikan tersangka untuk kasus cyber crime. Polisi mensinyalir, melalui jaringan internet, Imam Samudra menyebarkan propaganda dan pertukaran informasi.

Imam chatting melalui internet relay chat (IRC) di kanal “cafeislam” dan “ahlul sunah”. Perbincangan itu dilakukan sebelum peledakan bom Bali II pada 2005.

Komunikasi melalui internet ini dinilai polisi lebih berbahaya daripada telepon. “Karena lebih mendunia,” kata Kepala Unit V Cyber Crime Direktorat II Bareskrim Polri Kombes Pol Petrus Goloce.

Setelah bom Bali I 12 Oktober 2002 silam, Imam Samudra hampir tak pernah tinggal menetap. Namun perjalanannya berakhir saat dia hendak melarikan diri ke Sumatera.

Imam ditangkap tanpa perlawanan di sebuah bus di Pelabuhan Merak, Jawa Barat, 26 November 2008. Dua hari setelahnya, pria yang saat itu berusia 35 tahun itu dibawa ke Bali untuk menjalani pemeriksaan intensif.

2 Juni 2003, Imam Samudra mulai diadili di ruang sidang Gedung Nari Graha, Renon, Denpasar. Jaksa menuntutnya dengan hukuman mati karena terlibat langsung pengeboman.

Imam Samudra diketahui sebagai orang yang membagi tugas masing-masing orang untuk pengeboman yang diklaim terdasyat setelah peristiwa World Trade Center Amerika Serikat itu.
Dan akhirnya pada 10 September, anak pasangan Titin Embay dan Sihabuddin itu pun divonis mati oleh hakim.

Bersama Amrozi dan Ali Gufron, Imam Samudra dieksekusi mati di Nusakambangan. Ketiga orang ini diputuskan bersalah dan dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 200 orang pada ledakan bom 12 Oktober 2002.

1 komentar :

Anonim mengatakan...

Kebencian islam terhadap kaum barat tidak membenarkan muslim menjadi teroris. Datangi lahan jihad ! Bukan berjihad di negeri aman yang akan meresahkan muslimin sendiri dan mencoreng nama islam. Islam tidak membenarkan membunuh kafir Dzimmi. Jadi bukan agama yang memerintah teroris tapi hawa nafsu individu. Wallahu a'lam.

Tulisan Terkait: