15 Juli 2011

Contoh Laporan Dialog Interaktif

Contoh Laporan Dialog Interaktif - Setelah menulis tentang pengertian dialog interaktif pada postingan terdahulu di blog ini, maka pada tulisan ini saya ingin mempublikasikan contoh laporan dialog interaktif kepada teman-teman semuanya. Adapun contoh laporan dialog intraktif disini bersumber dari Bali TV dengan program acara Ajeg Bali yang dilaksanakan pada 1 Agustus tahun 2006 yang lalu.

Tema diskusi pada laporan dialog intaraktif ini adalah "Bangkitlah Bali demi Keutuhan NKRI". Berikut adalah contoh laporan dialog intraktif selengkapnya:

Dialog Interaktif Bali TV - Program Acara Ajeg Bali
"Bangkitlah Bali demi keutuhan NKRI"
1 Agustus 2006, jam 22.00 Wita

Moderator: Bali sebagai Pewaris Budaya yang masih tersisa, akhir2 ini kata-kata ini sering kita dengar dan ini menjadi harapan kita semua. Bagaimana menurut Bapak?

Anand Krishna: Saya yakin Budaya Nusantara tidak akan pernah mati, tapi di sana-sini tenggelam di tengah-tengah budaya asing, tetapi di Bali ini masih utuh masih hidup walaupun kadang2 kita melihat sedikit sekarat dan ini adalah harapan bagi Budaya Nusantara dan harus diangkat oleh Bali sendiri.

Moderator: Kira2 yang harus memulainya Siapa yang bisa mengangkat ini?

Anand Krishna: Kita sendiri pak, karena bila kita melihat para pemerintah kita sibuk dan dibuat sibuk dengan sekian banyak persoalan, dan para pendidik kita para budayawan kita memiliki agenda masing-masing. Yang tadi barusan saya bicarakan off air Seperti apa yang bapak katakan betul sekali dulu kita ingin melayani dulu baru mendapat kekuasaan sekarang ingin berkuasa dulu. Sekarangg mau tidak mau kita harus memulai dengan diri sendiri.

Saya melihat budaya itu dalam konteks yang lebih luas Seorang seniman harus berbudaya, seorang politisi harus berbudaya seorang ekonom seorang pedagang di pasar harus berbudaya budaya bukan sekerdar seni tetapi budaya melunakkan hati kita membuat kita lembut sehingga kita bisa melihat duduk perkara seperti apa dan berpikir jernih tidak langsung main hakim tidak langsung bersikeras tidak langsung memaksakan kehendak.

Moderator: Bagaimana peran bali dalam keutuhan NKRI?

Anand Krishna: Sesungguhnya sudah terbukti ketika Bali di Bom dua kali dan masyarakat tidak reaktif.dan kalau kita melihat kita mewarisi budaya yang sama dengan India di bom juga tapi tidak reaktif. Bahkan ada masyarakat India mengatakan kalau Istrael dapat menyerang Hisbulalh karena hanya beberapa warga negaranya disandera kenapa India tidak menyerang Pakistan karena sudah ratusan orang yang sudah mati di Bom oleh Pakistan. Dan terbukti bahwa para pembom ini mendapat pendidikan dari Pakistan.Tetapi India tidak reaktif ini budaya yang sama.

Kita tidak mengimport budaya itu dari India tidak. Kita memiliki budaya yang mirif dan sama budaya itu adalah dari wilayah peradaban yang luas sekali dari Gandhahar hingga ke Australia seluruh wilayah peradaban ini memiliki budaya yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda kalau saya tidak bisa menghormati agama2 lain maka saya belum beragama Hindu belum orang Hindu. Budaya ini yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia.

Moderator: Kemudian kita masuk kegenerasi muda yang kebarat-baratan?

Anand Krishna: Itu terjadi ketika kita tidak bangga dengan budaya sendiri dan menjadikan budaya sebagaimana seni saja.atau sesuatu yang dimuseumkan misalnya saya mencari tulisan tentang Sutasoma. Sejak th 1956 tidak ada tulisan tentang Sutasoma di Bali. Satu-satunya di tulis oleh Bapak I.B Sugriwa sejak saat itu tidak ada lagi tulisan tentang Sutasoma. Yang ada di lagukan di kakawinkan tetapi anak muda kita ingin memahami apa arti Sutasoma interpretasinya dan orang-orang asing lebih tahu tentang Budaya kita. Sekarang di pasaran di toko buku kalau ingin mengetahui budaya kita tentang Bali lebih banyak ditulis oleh orang asing.

Kewajiban kita semua adalah membuat anak muda kita bangga akan budaya kita. Penemuan di bidang sains tentang otak itu sudah ada di dalam buku-buku yoga kita ribuan tahun yang lalu. Ini harus diungkapkan dan dijelaskan dengan gaya yang populer.

Seperti contoh lagu-lagu tadi adalah menyuarakan kebijakan dharma lewat lagu-lagu tadi yang melampaui sekat-sekat agama kebijakan yang tidak pernah putus Sanathana Dharma dan berkesinambunngan dan tidak akan rusak atau aus karena waktu. Tetapi kalau dikidungkan dan dibacakan dalam bahasa sansekerta, Jawa kuno tidak akan dipahami oleh anak-anak muda tapi kalau disesuaikan dengan kondisi bisa dengan gitar maka akan di mengerti maksudnya.dan bisa disampaikan dengan bahasa modern yang mudah dipahami.

Moderator: Bali diguncang Bom tapi masih bisa bertahan dan optimis, kira kira untuk mereka yang tinggal di Bali dan bukan orang-orang Bali himbauan Bapak seperti apa?

Anand Krishna: Himbauan saya adalah apa yang dilakukan oleh Pak Satria Narada sudah tepat dan ini harus dikembangkan. Ajeg Bali bisa digaungkan sama dengan ajeg Nusantara. Ketika kita berada di Bali silahkan menggunakan ajeg Bali tetapi suara ini harus digaungkan. Di Sriwijaya barangkali yang diungkapkan adalah ajeg Sriwijayanya, di Jogja kita bicara ajeg Jawa maka kita akan bertemu. Tidak bisa berpisah lagi.tetapi kalau sekarang kita bicara tentang syariat agama tertentu maka kita akan terpecah belah. Contohnya RUU APP. Kita tidak bisa menerima bagaimana dengan Monas? Itu inspirasi yang diambil oleh Bung Karno dari lingga Yoni. Harus ditutup dengan kain atau diapakan? Bahkan di Bali disakralkan, dan itu simbol-simbol budaya kita. Dan orang-orang yang datang dari luar harus menghormati budaya kita budaya lokal. Celakanya adalah kita sebagai orang Indonesia sendiri tidak menghormati budaya kita sendiri. Budaya asal Nusantara. Bahkan di luar Bali lupa budaya lokal kita apa seolah-olah kita tidak berbudaya sebelumnya.

Moderator: Teman-teman kita di daerah lain terkaang tidak bangga akan budayanya. Dan kita sering berbuat konyol dengan membawa nama agama. Dan tidak sesuai dengan ajaran apa mungkin ada kesalahan dalam menafsirkan. Bagaimana menurut Bapak?

Anand Krishna: Saya kira yang penting bukan belive atau kepercayaan melainkan bagaimana kita melakoni agama kita sendiri. Dan ini yang terlupakan saya memberikan contoh Agama Islam menjadi besar di India karena orang-orang Hindu saat itu menjadi sangat sektarian dan arogan.ini sejarah kita tidak bisa mengelakkan Dan itu menjadikan agama Islam membesar. Islam membesar ketika tidak menggunakan pedang. Ketika menggunakan pedang justru tidak membesar. Bahkan dinasty Mogul kemudian hancur. Kita melihat kelembutan selalu berhasil. Kita melihat Mahatma Gandhi berhasil dengan kelembutannya. Yasir arafat mati dengan keadaan yang gelisah pasti. Sudah 50 tahun lebih, kita mendukung perjuangan Palestina mereka tetapi seandainya mereka menggunakan cara-cara yang lebih lembut pasti mereka sudah berhasil sekarang.

Moderator: Yang berkembang di Bali kemerosotan atau fatalogi sosial seperti pencurian Pratima bagaimana menurut Bapak?

Anand Krishna: Ada kemerosotan dan rasa bangga terhadap budaya peninggalan, mungkin di dlm pratima ada kandungan emas, ada nilai di pasaran. Kita tidak memahami nilai-nilai dan konsep suatu kebijakan yang ada di dalamnya dan saya menyalahkan diri saya mengapa saya kenapa saya tidak bisa mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada saudara-saudara saya?

{ selingan lagu oleh The Torchbearers...}

Sudharma (penelpon): Om Swastiastu pak Anand, pada saat ini di Bali banyak bermuculan kelompok-kelompok spiritual ataupun sekte-sekte. Dan itu kadang-kadang meimbulkan konflik sosial di Bali. Seperti saat kedatangan Empu Kuturan, bagaimana menurut Bapak?

Ibu Agung (penelpon): Saya tertarik sekali setiap perkataan dan pembicaraan yang disampaikan oleh Bapak Anand seolah-olah menggugah perasaan dan bathin kita sebagai orang Indonesia seperti tema malam ini Bangkitlah Bali demi Kesatuan NKRI kira-kira kita harus mulai darimana dan bersama siapa saja yang harus terlibat. Dan apa yang harus kita lakukan untuk memotivasi kebangkitan kita ini.

Anand Krishna: Mulai dari mana? kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berfikir kalau kita mempunyai kekuasaan baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhamad, Nabi Isa, Swami viekananda tidak mempunyai kekuasaan semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan setelah itu baru orang mendengar mereka. Bekal yang kita butuhkan adalah rasa bangga terhadap kebudayaan kita sendiri. Untuk itu penting sekali kita mempelajari sejarah. Pemda setempat membiayai orang-orang tertentu untuk menulis ulang lembaran-lembaran sejarah kita. Karena banyak lembaran2 sejarah kita yang hilang atau bahkan sengaja dihilangkan. Misalnya kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Majapahit dan Sriwijaya. Itu baru 400 tahun yang lalu saya kira tidak ada di seluruh dunia dimana sejarah 500 tahun tidak utuh tidak ada, bahkan peninggalannya tidak ada dan Trowulan itu juga berandai-andai. Saya rasa ada konspirasi yang sangat teratur untuk membuat kita lupa akan sejarah kita dan karena kita lupa akan sejarah, kita seakan dipisahkan oleh akar kita. Seperti kembang dalam pot ini kita akan mengalami disintegrasi dan layu.

Dalam kitab-kitab sejarah kita buku-buku sejarah itu masa Hindu masa Budha dan masa apa seolah masa itu masa yang tidak berbudaya. Barangkali pemerintah harus dengan serius menangani kata ini peninggalan masa Hindu. Apakah tidak ada lagi orang Hindu di negara ini? Kenapa harus mengatakan peninggalan? Di india tidak ada istilah peninggalan Hindu, peninggalan Islam. Taj Mahal adalah peninggalan Dinasty Mogul saya kira cara berfikir kita harus lebih dewasa harus lebih matang. Leluhur saya mungkin mempunyai kepercayaan lain dengan saya tetapi kita tidak bisa menafikkan leluhur kita. Dengan penafikan seperti itu keterpurukan yang terjadi di Indonesia ini karena kita melupakan leluhur kita, sejarah bangsa kita dan kita harus mulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga kita. Pemda harus ada cadangan anggaran sedikit untuk menulis, mencetak buku-buku, vcd dalam bentuk apa saja.

Moderator: Tetapi kita lihat sekarang penanganan SDM justru no 2 jika dibandingkan dengan penanganan fisik.

Anand Krishna: Ini harus kita rubah kita harus menyadarkan pemerintah kita bahwa tanpa rasa bangga terhadap Nasionalisme yang dikatakan juga oleh Menhan kita dalam suatu wawancara bahwa kita membutuhkan pertahanan non militer kalau tidak negara kita akan hancur.

Yang harus kita jaga adalah sectranism atau sektarian ini harus dijaga. Dengan ada banyaknya sekte sulit untuk mencegah. Kalau dicegah dengan undang-undang, ada satu sekte yang pernah kita larang, dan sekarang akan muncul dengan nama lain. Kita nggak bisa berbuat apa-apa. Cuma bagaimana kita mencegah dan harus dibina harus dijelaskan bahwa kita memiliki satu platform yang sama seperti yang dilakukan oleh Empu Tantular ia tidak akan menampikkan sekte-sekte yang ada. Saat itu yang ada dua sekte itu seandainya ia lahir hari ini maka ia akan menyebutkan Islam, Hindu, Budha, Katholik dan semuanya. Saya kira sekte itu tidak bisa dinafikkan yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka sadar bahwa jangan menjadi sektarian. Kelompok2 spiritual ini harus bisa dibedakan. karena sesungguhnya kata spiritual ini tidak bisa dibedakan karena spiritual adalah di atas kelompokisme. Sdh tidak memikirkan kelompoknya. Sekte iya harus memikirkan organisasinya tapi kalau kita berhadapan dengan Mahatma Gandhi sektemu apa, maka ia akan ketawa.

Moderator: Adanya penghapusan peninggalan sejarah kepentingannya apa?

Anand Krishna: 100 persen adalah kepentingan politik dan juga kepentingan ekonomi. Politik dipoitisir. Dan sejarah masa lalu yang saya yakin sekali bersama sejarah yang dihilangkan adalah data2 ekonomi kita. Dan data2 itu sengaja dihilangkan saya tidak yakin kita tidak punya tabungan diluar negeri. Raja-raja majapahit pasti punya tabungan di luar negeri. Kita sdh berdagang sampai ke afrika pakai kapal sendiri kita menjual emas rempah-rempah itu uangnya kemana?sengaja dihilangkan bilyet2 giro dihilangkan daftar utang piutang dihilangkan karena pasti ada kelompok yang menikmati semuanya itu. Karena ini baru 3,5 abad yang lalu. Dan di England masih ada perusahaan-perusahaan yang masih berjaya. Uangnya kemana?

Wawan (penelpon): sesuai dengan ajeg bali bagaimana menurut Bpk Anand Krishna tipikal-tipikal orang-orang Bali untuk mengajegkan Bali sendiri yang cukup sabar dengan pendatang tetapi sangat tidak bersahabat dengan warga sendiri. Seperti para penguasa yang memihak para investor dengan BPG, Geothermal, BNR, dan lain-lain. Justru ini mengkhianati ajeg Bali.

Bisma (penelpon): Majapahit yang menguasai Nusantara, bagaimana ajeg bali ini bisa menyuarakan NKRI ke tingkat Nasional?

Anand Krishna: Kalau kita melihat dari budaya kita tingkatan itu karena profesi bukan karena kelahiran tetapi lama kelamaan karena kelahiran. Tapi kita harus jujur pada diri sendiri seperti Abhyasa adalah kelahiran anak seorang penjual ikan yang tidak memiliki kasta dan adalah anak haram. Tetapi dia dapat mencapai kedudukan yang sangat tinggi. Kita menghormati orang karena kelahiran juga dan bukan satu-satunya kriteria. Kemunduran Hindu di India karena sistem kasta.

Kita minder dengan orang asing kita tidak ada salahnya menghargai orang asing seperti Vasudeva Kutumbhakam kita semua adalah satu keluarga besar. Dan ada pertanyaan yang cukup menarik tentang Besakih kita harus cukup bangga dengan itu bahwa masyarakat Internasional menerima hal itu tetapi kita bisa memberikan klosul kita dengan syarat. Seperti contoh Bahwa Taj Mahal itu adalah warisan budaya Bagian2 tertentu makamnya Sahajan ditutup untuk umum ada replika di dalamnya. Sekian banyak candi-candi di India yang hanya bisa dikunjungi hanya ulamanya ada pendetanya kita bisa negosiasi dan jangan lemah dengan nego2 kita. Kita bisa memberikan contoh-contohnya.

Ajeg Bali agama Hindu bukan cuma agama tetapi adalah suatu konsep pedoman hidup. Di India beragama apapun bisa melakukan budaya Hindu yang meliputi Gandahar hingga Astrale. Seorang Hindu tidak pernah bisa menjadi fanatik melainkan bangga karena di sekian banyak kitab suci dalam Bhagavadgita menjelaskan mengatakan jalan manapun yang kau tempuh akan mencapai pada-Ku. Bahkan di Rigveda jauh sebelum Bagavadgita bahwa kebenaran itu satu para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.

Kalau kita tidak memahami budaya kita agama kita maka kita tidak bisa memahami pedoman perilaku yang keluar dari agama itu. Lucu sekali berapa banyak orang di Indonesia yang mengaku beragama Hindu yang betul-betul secara jujur pernah melihat kitab suci Hindu. Kenapa tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa populer. Sehingga masyarakat bisa mengetahui makna di dalamnya bukan cuma Wisnu sebagai Wisnu, Varuna adalah Varuna. Melainkan makna di baliknya karena ada elemen-elemen alami yang tersirat didalam makna tersebut.

Perpindahan tanah atas nama tertentu, karena banyak orang Bali yang tinggal di rumah kontrakan sementara orang lain banyak memiliki tanah disini. Seharusnya bisa menggunakan hak pakai atau hak guna bangunan. Dan yang terakhir, pendidikan memerankan hal yang sangat penting sekali.

Terima kasih.

1 komentar :

Mikhael Simamora mengatakan...

makasihh ya 2 jam nyari baru dari blog anda dapat,,,

Tulisan Terkait: